Friday, August 14, 2015

Bad Thing to Meet You

                Delia berkali-kali merutuk dalam hati melihat bos nya tidak kunjung menyudahi rapat sore ini. Jarum jam tangannya tanpa segan terus melaju. Sementara ponsel yang disetel tanpa suara yang sedari tadi berada di depannya berulang kali berkelip-kelip menyerukan panggilan.
            Rapat dengan bos besar adalah siksaan yang teramat berat bagi siapapun penghuni kantor itu. Membuat Delia hanya mampu mengintip siapa orang yang dengan kukuh menghubunginya itu. Diam-diam Delia mengambil dan membuka ponselnya dengan sangat teratur.
            Dominic?
            Tubuh Delia menggeliat kaku melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Nafasnya sempat tertahan sejenak. Dengan sangat pelan ia mendesis mengucapkan nama lelaki yang telah sangat, sangat lama tidak pernah ia jumpai itu. Bahkan ia sendiri tidak mempercayai, nomor ponsel yang telah lama ia lupakan itu ternyata masih aktif dengan pemilik yang sama.
            Otak Delia mulai tidak fokus. Pikirannya terbang kemana-mana.  Tanpa ia sadari, jantungnya pun mulai berdegup tidak seirama.
            Ponselnya kembali berkelip. Buru-buru ia meraihnya tanpa mempedulikan reaksi bosnya yang masih saja sibuk berbicara tentang angka penjualan perusahaan yang tidak mengalami kemajuan.
            Joe, teman senior Delia yang notabene berlebihan dalam bersolek, bahkan tidak ragu-ragu berlaku gemulai, terkejut dengan keberanian Delia memainkan ponselnya di hadapan si bos.  Matanya seakan menghakimi atas sikap Delia.   
            Delia cukup kecewa kali ini. Ternyata bukan Dom yang menghubunginya.
Tapi, hei, mengapa ia harus kecewa? Kali ini Farel, suaminya yang menhubunginya. Namun melihat nama Farel yang tertera di layar ponsel justru membuat Delia melesu. Tanpa ia sadari, nafasnya pun dibuangnya dengan satu hentakan.
            “Ada apa, Del?”
Delia hampir saja berjingkat mendengar suara si bos yang tiba-tiba menyebut namanya. Matanya membulat. Badannya menegak. Wajahnya pun terlihat sangat mati gaya.
“Siapa yang meneleponmu?” lanjut si bos.
Mendadak semua mata yang berada di ruangan itu tertuju kepadanya.
“Barusan klien kita yang berada di Medan menelepon, pak.  Sepertinya ada sesuatu yang penting. Saya tidak enak menerimanya disaat bapak sedang serius membicarakan perusahaan kita” jawab Delia tanpa basa basi, dengan mimik muka yang sangat meyakinkan. Andai dia masuk dalam nominasi piala citra, tentu ia sudah dinobatlkan sebagai artis paling top dalam beralasan.
“Oke. Rapat saya sudahi dulu sampai disini. Dan jangan lupa, tangani semua klien kita dengan baik.” Lanjut si bos sambil membenarkan tatanan jasnya dan berlalu keluar dari ruangan.
Joe kembali menatap takjub Delia. Dengan gerakan gemulainya, tangan kiri nya tersilang di depan dada dan tangan kanan menutup mulutnya. Tidak ketinggalan, tubuhnya ditarik sekian senti menjauhi Delia. Seakan ia menemukan sesuatu yang hina di depannya.
“Tenang, Joe. Semua akan baik-baik saja.” Celutuk Delia jahil sambil mengusap punggung Joe.

                                                                                    ***
        
         Jakarta sore ini cukup lengang. Tidak seperti biasanya tol dalam kota tidak terlalu dipadati kendaraan. Delia menarik nafas lega. Itu berarti ia akan tiba di rumah sebelum malam semakin larut. Melihat Farel tidak terlalu lelah dalam mengemudikan mobil, Delia menyalakan radio sambil membuka kembali ponselnya.
            “Wow!”  gumam Delia ketika mendapati pesan whatsapp dari grup geng nya semasa kuliah. 200 messages. Apa saja yang mereka bicarakan?
            “Ada apa, sayang?” tanya Farel sambil menoleh ke arah Delia.
            “Sorry. Nggak ada apa-apa kok. Obrolan teman-teman di whatsapp mencapai dua ratus messages. Gila, bukan?”
            “Oh… grup kamu yang sama Rezkia, Chika, Ditia dan Sita?”
            Delia mengangguk. Ia pun merasa lega melihat suaminya mengerti dan tidak berusaha mencari tahu dengan memeriksa isi ponselnya.
            Buru-buru Delia kembali berkonsentrasi pada benda yang berada di genggamannya.  Tidak biasanya grup gengnya itu mencetak angka sebanyak 200 pesan dalam waktu sehari.
            Delia membaca dengan cepat celotehan teman-temannya. Dengan teliti ia bisa memilah, mana yang perlu dibaca dan mana yang tidak.
            Eits!
            Delia baru saja melihat beberapa kalimat mencurigakan yang ditulis teman-temannya itu. Ada nama Dominic disebut disana. Ada apa dengan Dominic? Mengapa mereka tia-tiba menyebut Dom?
            Delia mulai membaca baik-baik isi pesan yang mencurigakan itu.
            Ditia    : Hei, tau tidak, siang tadi aku bertemu dengan siapa?
            Rezkia  : Malaikat Izrail.
            Ditia    : Hayyaah…mulutnya ya..
            Rezkia  : Hahahaha
           
            Sejenak Delia terkikik membaca ocehan Ditia dengan Rezkia.
Chika   : Hahahaha..haha
            Sita      : Siapa, siapaaa..??
            Ditia    : Mantan gebetannya Delia.
            Rezkia  : Memang Delia punya gebetan? dia kan gadis yang setia pada pacarnya, si Farel
            Chika   : Bener juga. Berarti dia selingkuh tuh.
Sita      : Udah…ayo Dit, sebut nama
Ditia    : Dom!!
            Nafas Delia tertahan sejenak. Jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Bahkan ia sempat mengucak matanya, seakan tidak percaya Ditia mengaku telah bertemu dengan Dom. Bagaimana bisa? Lelaki itu telah lama menghilang.
            Delia kembali membaca obrolan teman-temannya.
            Chika  : Hah? Memang Delia pernah naksir sama Dom?
            Sita      : Wah…Delia diam-diam ternyata menghanyutkan.
            Chika  : Dom nya doyan nggak sama Delia? hahaha
Ditia   : Kayaknya doyan, hahaha… aku pernah lihat mereka jalan berdua. Tugas kampus   
                berdua. Kemana-mana berdua. Aku yakin mereka ada affair.
 Rezkia : Sebentar, Dom? Cowok yang selalu rapi dan berdandan keren di kampus kita itu?     
             Sita     : Ya eyalah…siapa lagi? Memangnya ada berapa Dominic di kampus kita?
             Rezkia : Kalau boleh berharap, Brian O’ Connor nya aja yang ada di kampus kita.
            Chika   : Hmm…tetep ya, Rezkia. Gagal move on.
            Rezkia  : Hahaha
            Ditia    : Hei, kembali ke laptop. Dominic sekarang makin keren, tau!!
            Chika   : Oh, ya?? Sekeren apa?
  Ditia    : Tadi aku sempet ngobrol sama dia. Dia sempat bekerja menjadi senior manajer  
                sebuah perusahaan asing.
  Chika   : Terus??         
 Ditia     : Dewasa banget dia sekarang. Dan aku lihat, jarinya masih belum pakai cincin.
 Razkia  : Oh…itu berarti dia terselamatkan dari tren batu akik.
 Sita       : Hahaha
 Chika    : Hahaha
            Dahi Delia mengrenyit melihat obrolan temannya yang terputus. Delia menyimpan kembali ponselnya. Kini pandangannya menerawang. Memikirkan segala kenangan dan kemungkinan. Bagaimana jika seuatu saat nanti ia benar-benar akan bertemu Dom?
            “Sayang… sudah sampai. Kamu serius amat dari tadi? Coba lihat, kamu ngobrolin apa saja sih sama mereka?” tiba-tiba Farel  meraih ponsel Delia yang menyembul dari dalam tas.
            “Hei..!”
            Delia tidak kuasa merebut kembali ponselnya yang telah dikuasai oleh Farel. Sebenarnya Delia amat terganggu dengan kebiasaan Farel yang tidak pernah mau percaya dengannya. Namun lagi-lagi Delia teramat tidak kuasa melawan Farel. Bagi Delia, Farel adalah sosok suami yang teramat sempurna. Dia tidak akan menemukan dimanapun sosok lelaki seperti Farel.
            Delia menggigit bibirnya cemas. Apa lagi yang ia takutkan kalau bukan Farel mendapati nama Dom disana. Farel tahu betul siapa Dom.
            “Sayang, pulsa kamu habis kok nggak bilang?” tiba-tiba Farel menyerahkan kembali ponsel Delia. Setelah itu ia merogoh ponsel dari dalam sakunya dan mengirimkan sejumlah pulsa ke nomor Delia.
            Delia menarik nafas lega sekaligus bahagia. Itulah salah satu alasan mengapa Delia begitu mencintai dan membanggakan suaminya.
            “Cukup, kan, pulsa dua ratus ribu buat satu bulan?”
            Delia mengangguk sekaligus menggamit lengan suaminya manja. “Terima kasih, sayang”
            Seketika itu juga, suara notifikasi bbm, whatsapp, sms, datang bersahut-sahutan. Mata Delia membelalak kaget. Dia teringat akan sesuatu.
            Grup! Grup!
            Delia buru-buru mengajak Farel masuk ke dalam rumah dan menyiapkan perlengkapan mandi untuknya. Alasan Delia simple saja, jika tidak mau masuk angin, jangan mandi terlalu malam. Padahal…

                                                                                    ***
           
            Dengan perasaan bahagia, Delia membuka kembali ponselnya ketika Farel baru saja memulai mandi. Ia merebahkan badannya diatas sofa ruang tengah sambil jemarinya bergerak lincah mencari grup gengnya.
            Tidak lama mulut Delia mengerucut seperti corong air. Wajahnya tampak kecewa. Ia tidak mendapati obrolan terbaru dari teman-temannya itu.
            Delia tidak menyerah. Ia pun memeriksa setelan whatsapp nya. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya.
            Merasa semuanya dalam kondisi normal, Delia memilih untuk mengirim pesan singkat kepada Ditia melalui sms.

Tia, beneran nih kamu ketemu Dom tadi siang? Kalian ngobrol apa saja? Tadi sore dia  meneleponku, tau. Maksa banget. Tapi bikin deg-degan juga sih. Hahha.. apa kabarnya dia sekarang? Serius dia makin keren?

            Message sent!
            Delia berharap Ditia akan membalas sms darinya secepatnya.
            Dan 5 menit pun berlalu…
            10 menit…
            “Sayang, kamu nggak mandi? Ayo buruan, setelah itu kita sholat isya bersama,”
            Tanpa Delia sadari, ia telah tertidur diatas sofa. Suara Farel tiba-tiba terdengar seperti suara bel kapal. Untung saja suaminya itu tidak iseng mengambil ponsel yang masih di genggamannya dan mencari tau isinya.
            DIlihatnya, ponselnya masih tenang tanpa notifikasi apapun. Delia menarik nafasnya berat sambil bergegas menuju kamar mandi. Tidak lupa sebelumnya ia menghapus terlebih dahulu semua obrolan yang berkaitan dengan Dom.

                                                                                    ***

            “Del, saya minta tolong ke bagian pemasaran, dan berikan ke saya semua data mengenai market, angka penjualan dan strategi marketing kita. Segera ya, Del.” Perintah si bos melalui telepon internal kantor.
                 “Baik, pak.” Jawab Delia. Dengan cekatan Delia meninggalkan mejanya dan menuju ke ruang pemasaran.
            Dalam beberapa menit, Delia sudah mendapatkan apa yang diinginkan bos nya. Joe telah membantunya menemukan map-map berharga itu. Meskipun ia sedikit melambai, namun kegesitannya dan loyalitasnya dalam bekerja sangat tidak diragukan.
            Beberapa map siap ia hantarkan ke ruang si bos. Sebelum memasuki ruangan, ia merapikan baju sekaligus tatanan rambutnya. Bukan karena ia ingin memikat si bos. Tapi ia ingin tampil profesional di hadapan tamu yang sedang berada di dalam ruangan itu. Ini juga demi citra dan nama baik perusahaan. Masa sekretaris perusahaan besar tampang nya awut-awutan.
            Delia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah itu dengan sopan ia membuka pintu ruangan.
            “Masuk, Del,” si bos mempersilakan dirinya masuk. “Taruh saja map nya di meja.”
            Delia berjalan menuju meja si bos sambil berusaha menoleh ke arah sang tamu yang sedang membelakangi Delia. Dari belakang, potongan dan tatanan rambut tamu si bos begitu licin dan rapi. Warna kemejanya menunjukkan ia seorang lelaki yang memiliki selera.
            “Del, sini, kenalkan ini keponakan saya yang baru resign dari tempat bekerjanya di Singapura. Bulan depan ia akan membantu kita di perusahaan ini.” Tiba-tiba tangan si bos mengayun memberi kode kepada Delia untuk mendekat ke arah mereka.
            Sang tamu itu beranjak dari kursinya dan menoleh menyambut Delia. Senyumnya terkembang manis sekali. Dan ia tahu betul siapa pemilik senyuman itu.
                 Dom?!!
          Hampir saja Delia kena serangan stroke. Tidak jadi mendapat serangan stroke, mendadak tubuhnya berubah menjadi panas dingin. Bibirnya kaku seakan ia sedang berada dalam ruangan bersuhu minus tiga puluh derajat.
            Lidahnya pun ikut kelu. Tangannya pun tidak kunjung menjabat tamu yang berada di depannya itu. Tamu yang sangat berbeda dari perjumpaan terakhir ketika ia melangsungkan pernikahan dengan Farel. Tamu yang  selama ini pernah menghantui pikirannya meskipun ia berada dalam pelukan Farel. Tamu yang pernah ia rindukan dengan angan-angan perjumpaan yang tak terduga. Dan kini Tuhan mengabulkannya!
            Ya Tuhan…mengapa dia begitu…
            Mempesona!!

bersambung

No comments:

Post a Comment