Delia berkali-kali merutuk dalam
hati melihat bos nya tidak kunjung menyudahi rapat sore ini. Jarum jam
tangannya tanpa segan terus melaju. Sementara ponsel yang disetel tanpa suara
yang sedari tadi berada di depannya berulang kali berkelip-kelip menyerukan panggilan.
Rapat dengan bos besar adalah
siksaan yang teramat berat bagi siapapun penghuni kantor itu. Membuat Delia
hanya mampu mengintip siapa orang yang dengan kukuh menghubunginya itu. Diam-diam
Delia mengambil dan membuka ponselnya dengan sangat teratur.
Dominic?
Tubuh Delia menggeliat kaku melihat
nama yang muncul di layar ponselnya. Nafasnya sempat tertahan sejenak. Dengan
sangat pelan ia mendesis mengucapkan nama lelaki yang telah sangat, sangat lama
tidak pernah ia jumpai itu. Bahkan ia sendiri tidak mempercayai, nomor ponsel
yang telah lama ia lupakan itu ternyata masih aktif dengan pemilik yang sama.
Otak Delia mulai tidak fokus.
Pikirannya terbang kemana-mana. Tanpa ia
sadari, jantungnya pun mulai berdegup tidak seirama.
Ponselnya kembali berkelip.
Buru-buru ia meraihnya tanpa mempedulikan reaksi bosnya yang masih saja sibuk
berbicara tentang angka penjualan perusahaan yang tidak mengalami kemajuan.
Joe, teman senior Delia yang notabene
berlebihan dalam bersolek, bahkan tidak ragu-ragu berlaku gemulai, terkejut
dengan keberanian Delia memainkan ponselnya di hadapan si bos. Matanya seakan menghakimi atas sikap Delia.
Delia cukup kecewa kali ini.
Ternyata bukan Dom yang menghubunginya.
Tapi,
hei, mengapa ia harus kecewa? Kali ini Farel, suaminya yang menhubunginya.
Namun melihat nama Farel yang tertera di layar ponsel justru membuat Delia
melesu. Tanpa ia sadari, nafasnya pun dibuangnya dengan satu hentakan.
“Ada apa, Del?”
Delia
hampir saja berjingkat mendengar suara si bos yang tiba-tiba menyebut namanya.
Matanya membulat. Badannya menegak. Wajahnya pun terlihat sangat mati gaya.
“Siapa
yang meneleponmu?” lanjut si bos.
Mendadak semua
mata yang berada di ruangan itu tertuju kepadanya.
“Barusan
klien kita yang berada di Medan menelepon, pak. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Saya
tidak enak menerimanya disaat bapak sedang serius membicarakan perusahaan kita”
jawab Delia tanpa basa basi, dengan mimik muka yang sangat meyakinkan. Andai dia
masuk dalam nominasi piala citra, tentu ia sudah dinobatlkan sebagai artis
paling top dalam beralasan.
“Oke.
Rapat saya sudahi dulu sampai disini. Dan jangan lupa, tangani semua klien kita dengan baik.” Lanjut
si bos sambil membenarkan tatanan jasnya dan berlalu keluar dari ruangan.
Joe kembali
menatap takjub Delia. Dengan gerakan gemulainya, tangan kiri nya tersilang di depan dada dan tangan kanan menutup mulutnya. Tidak
ketinggalan, tubuhnya ditarik sekian senti menjauhi Delia. Seakan ia menemukan
sesuatu yang hina di depannya.
“Tenang,
Joe. Semua akan baik-baik saja.” Celutuk Delia jahil sambil mengusap punggung Joe.
***
Jakarta sore ini cukup lengang. Tidak
seperti biasanya tol dalam kota tidak terlalu dipadati kendaraan. Delia menarik
nafas lega. Itu berarti ia akan tiba di rumah sebelum malam semakin larut. Melihat
Farel tidak terlalu lelah dalam mengemudikan mobil, Delia menyalakan radio
sambil membuka kembali ponselnya.
“Wow!” gumam Delia ketika mendapati pesan whatsapp
dari grup geng nya semasa kuliah. 200 messages. Apa saja yang mereka bicarakan?
“Ada apa, sayang?” tanya Farel
sambil menoleh ke arah Delia.
“Sorry. Nggak ada apa-apa kok.
Obrolan teman-teman di whatsapp mencapai dua ratus messages. Gila, bukan?”
“Oh… grup kamu yang sama Rezkia,
Chika, Ditia dan Sita?”
Delia mengangguk. Ia pun merasa lega
melihat suaminya mengerti dan tidak berusaha mencari tahu dengan memeriksa isi
ponselnya.
Buru-buru Delia kembali
berkonsentrasi pada benda yang berada di genggamannya. Tidak biasanya grup gengnya itu mencetak
angka sebanyak 200 pesan dalam waktu sehari.
Delia membaca dengan cepat celotehan
teman-temannya. Dengan teliti ia bisa memilah, mana yang perlu dibaca dan mana
yang tidak.
Eits!
Delia baru saja melihat beberapa kalimat
mencurigakan yang ditulis teman-temannya itu. Ada nama Dominic disebut disana.
Ada apa dengan Dominic? Mengapa mereka tia-tiba menyebut Dom?
Delia mulai membaca baik-baik isi pesan
yang mencurigakan itu.
Ditia : Hei, tau tidak, siang tadi aku bertemu
dengan siapa?
Rezkia : Malaikat Izrail.
Ditia : Hayyaah…mulutnya ya..
Rezkia : Hahahaha
Sejenak Delia terkikik membaca
ocehan Ditia dengan Rezkia.
Chika : Hahahaha..haha
Sita : Siapa, siapaaa..??
Ditia : Mantan gebetannya Delia.
Rezkia : Memang Delia punya gebetan? dia kan gadis yang
setia pada pacarnya, si Farel
Chika : Bener juga. Berarti dia selingkuh tuh.
Sita : Udah…ayo Dit, sebut nama
Ditia : Dom!!
Nafas Delia tertahan sejenak.
Jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Bahkan ia sempat mengucak matanya,
seakan tidak percaya Ditia mengaku telah bertemu dengan Dom. Bagaimana bisa? Lelaki
itu telah lama menghilang.
Delia kembali membaca obrolan
teman-temannya.
Chika : Hah?
Memang Delia pernah naksir sama Dom?
Sita : Wah…Delia diam-diam ternyata menghanyutkan.
Chika : Dom
nya doyan nggak sama Delia? hahaha
Ditia : Kayaknya
doyan, hahaha… aku pernah lihat mereka jalan berdua. Tugas kampus
berdua. Kemana-mana berdua. Aku yakin mereka
ada affair.
Rezkia :
Sebentar, Dom? Cowok yang selalu rapi dan berdandan keren di kampus kita itu?
Sita :
Ya eyalah…siapa lagi? Memangnya ada berapa Dominic di kampus kita?
Rezkia :
Kalau boleh berharap, Brian O’ Connor nya aja yang ada di kampus kita.
Chika : Hmm…tetep ya, Rezkia. Gagal move on.
Rezkia : Hahaha
Ditia : Hei, kembali ke laptop. Dominic sekarang
makin keren, tau!!
Chika : Oh, ya?? Sekeren apa?
Ditia : Tadi aku sempet ngobrol sama dia. Dia sempat bekerja menjadi
senior manajer
sebuah perusahaan asing.
Chika : Terus??
Ditia : Dewasa banget dia sekarang. Dan aku lihat, jarinya masih belum
pakai cincin.
Razkia : Oh…itu berarti dia terselamatkan dari tren batu akik.
Sita : Hahaha
Chika : Hahaha
Dahi Delia
mengrenyit melihat obrolan temannya yang terputus. Delia menyimpan kembali
ponselnya. Kini pandangannya menerawang. Memikirkan segala kenangan dan
kemungkinan. Bagaimana jika seuatu saat nanti ia benar-benar akan bertemu Dom?
“Sayang… sudah sampai. Kamu serius
amat dari tadi? Coba lihat, kamu ngobrolin apa saja sih sama mereka?” tiba-tiba
Farel meraih ponsel Delia yang menyembul
dari dalam tas.
“Hei..!”
Delia tidak
kuasa merebut kembali ponselnya yang telah dikuasai oleh Farel. Sebenarnya Delia
amat terganggu dengan kebiasaan Farel yang tidak pernah mau percaya dengannya. Namun
lagi-lagi Delia teramat tidak kuasa melawan Farel. Bagi Delia, Farel adalah
sosok suami yang teramat sempurna. Dia tidak akan menemukan dimanapun sosok
lelaki seperti Farel.
Delia
menggigit bibirnya cemas. Apa lagi yang ia takutkan kalau bukan Farel mendapati
nama Dom disana. Farel tahu betul siapa Dom.
“Sayang,
pulsa kamu habis kok nggak bilang?” tiba-tiba Farel menyerahkan kembali ponsel
Delia. Setelah itu ia merogoh ponsel dari dalam sakunya dan mengirimkan
sejumlah pulsa ke nomor Delia.
Delia menarik
nafas lega sekaligus bahagia. Itulah salah satu alasan mengapa Delia begitu
mencintai dan membanggakan suaminya.
“Cukup, kan,
pulsa dua ratus ribu buat satu bulan?”
Delia mengangguk
sekaligus menggamit lengan suaminya manja. “Terima kasih, sayang”
Seketika itu
juga, suara notifikasi bbm, whatsapp, sms, datang bersahut-sahutan. Mata Delia
membelalak kaget. Dia teringat akan sesuatu.
Grup! Grup!
Delia
buru-buru mengajak Farel masuk ke dalam rumah dan menyiapkan perlengkapan mandi
untuknya. Alasan Delia simple saja, jika tidak mau masuk angin, jangan mandi
terlalu malam. Padahal…
***
Dengan
perasaan bahagia, Delia membuka kembali ponselnya ketika Farel baru saja memulai
mandi. Ia merebahkan badannya diatas sofa ruang tengah sambil jemarinya
bergerak lincah mencari grup gengnya.
Tidak lama mulut
Delia mengerucut seperti corong air. Wajahnya tampak kecewa. Ia tidak mendapati
obrolan terbaru dari teman-temannya itu.
Delia tidak
menyerah. Ia pun memeriksa setelan whatsapp nya. Pasti ada yang tidak beres,
pikirnya.
Merasa
semuanya dalam kondisi normal, Delia memilih untuk mengirim pesan singkat
kepada Ditia melalui sms.
Tia, beneran
nih kamu ketemu Dom tadi siang? Kalian ngobrol apa saja? Tadi sore dia meneleponku, tau. Maksa banget. Tapi bikin
deg-degan juga sih. Hahha.. apa kabarnya dia sekarang? Serius dia makin keren?
Message sent!
Delia
berharap Ditia akan membalas sms darinya secepatnya.
Dan 5 menit
pun berlalu…
10 menit…
“Sayang, kamu
nggak mandi? Ayo buruan, setelah itu kita sholat isya bersama,”
Tanpa Delia
sadari, ia telah tertidur diatas sofa. Suara Farel tiba-tiba terdengar seperti
suara bel kapal. Untung saja suaminya itu tidak iseng mengambil ponsel yang
masih di genggamannya dan mencari tau isinya.
DIlihatnya, ponselnya
masih tenang tanpa notifikasi apapun. Delia menarik nafasnya berat sambil
bergegas menuju kamar mandi. Tidak lupa sebelumnya ia menghapus terlebih dahulu
semua obrolan yang berkaitan dengan Dom.
***
“Del, saya
minta tolong ke bagian pemasaran, dan berikan ke saya semua data mengenai
market, angka penjualan dan strategi marketing kita. Segera ya, Del.” Perintah si bos melalui telepon internal
kantor.
“Baik, pak.” Jawab
Delia. Dengan cekatan Delia meninggalkan mejanya dan menuju ke ruang pemasaran.
Dalam beberapa
menit, Delia sudah mendapatkan apa yang diinginkan bos nya. Joe telah
membantunya menemukan map-map berharga itu. Meskipun ia sedikit melambai, namun
kegesitannya dan loyalitasnya dalam bekerja sangat tidak diragukan.
Beberapa map
siap ia hantarkan ke ruang si bos. Sebelum memasuki ruangan, ia merapikan baju
sekaligus tatanan rambutnya. Bukan karena ia ingin memikat si bos. Tapi ia ingin
tampil profesional di hadapan tamu yang sedang berada di dalam ruangan itu. Ini
juga demi citra dan nama baik perusahaan. Masa sekretaris perusahaan besar
tampang nya awut-awutan.
Delia
mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah itu dengan sopan ia membuka pintu
ruangan.
“Masuk, Del,”
si bos mempersilakan dirinya masuk. “Taruh saja map nya di meja.”
Delia
berjalan menuju meja si bos sambil berusaha menoleh ke arah sang tamu yang sedang
membelakangi Delia. Dari belakang, potongan dan tatanan rambut tamu si bos
begitu licin dan rapi. Warna kemejanya menunjukkan ia seorang lelaki yang
memiliki selera.
“Del, sini,
kenalkan ini keponakan saya yang baru
resign dari tempat bekerjanya di Singapura. Bulan depan ia akan membantu
kita di perusahaan ini.” Tiba-tiba tangan si bos mengayun memberi kode kepada
Delia untuk mendekat ke arah mereka.
Sang tamu itu
beranjak dari kursinya dan menoleh menyambut Delia. Senyumnya terkembang manis
sekali. Dan ia tahu betul siapa pemilik senyuman itu.
Dom?!!
Hampir saja
Delia kena serangan stroke. Tidak jadi mendapat serangan stroke, mendadak
tubuhnya berubah menjadi panas dingin. Bibirnya kaku seakan ia sedang berada dalam
ruangan bersuhu minus tiga puluh derajat.
Lidahnya pun
ikut kelu. Tangannya pun tidak kunjung menjabat tamu yang berada di depannya
itu. Tamu yang sangat berbeda dari perjumpaan terakhir ketika ia melangsungkan
pernikahan dengan Farel. Tamu yang selama ini pernah menghantui pikirannya
meskipun ia berada dalam pelukan Farel. Tamu yang pernah ia rindukan dengan angan-angan
perjumpaan yang tak terduga. Dan kini Tuhan mengabulkannya!
Ya Tuhan…mengapa
dia begitu…
Mempesona!!
No comments:
Post a Comment