Friday, April 3, 2015

Mengkonkretkan yang Abstrak bersama Dewi Lestari

Menulis itu harus cerdas dan kreatif!

Itulah yang berhasil saya rangkum dari acara yang digelar pada hari Minggu, tanggal 29 Maret 2015 di lantai dua perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya.



                                                 Dee's Coaching Clinic di Surabaya                                      

Ya, saya memang sedang beruntung dapat mengikuti acara kece seperti ini. Bagaimana tidak jika syarat untuk dapat mengantongi undangan acara yang bertajuk "Dee's Coaching Clinic" yang langsung dimentori oleh Dewi Lestari ini adalah dengan menunjukkan review terbaiknya tentang sekuel kelima dari serial Supernova yang berjudul GELOMBANG. Dan saya berhasil melenggang bersama keponakan kece saya yang masih berusia sebelas tahun, bernama Hanun, berkat kemurahan hati seorang lelaki bernama Lalu Abdul Fatah. Terima kasih ya, Lalu :) Tapi sepertinya kita tidak perlu berlama-lama mengulas lelaki ini kali yaa. Hehe...

Selain rasa bahagia, mendadak saya juga diliputi rasa kagum oleh sosok ibu dua anak dari Keenan dan Atisha ini. Disanalah untuk pertama kalinya saya terbius oleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bidang kedokteran. Dibuat terpesona oleh seseorang yang bukan lawan jenis saya. Sekaligus terhipnotis tanpa perlu melihat gerakan masiv sentrifugal sebuah lingkaran.

Perempuan yang biasa akrab disapa Dee ini, selain pandai mengolah imajinasi dan mengemasnya dalam ratusan lembar cerita beraroma sastra ilmiah, ternyata ia juga sangat jenius dalam memvisualisasikan isi otaknya kepada kami para peserta. Jauh dari kesan sombong, ja'im, apalagi menggurui. Semua pesan disampaikannya dengan jujur dan mengalir tanpa mengurangi aura cerdas yang selama ini selalu melekat pada dirinya. Ya, disitulah kadang saya merasa merinding sendiri.

                                                                       
Sekilas tentang Dee yang tidak kita ketahui

Seorang Dee tidak pernah bercita-cita menjadi penulis sebelumnya. Tekadnya sederhana saja di masa itu. Suatu saat bukunya akan terpajang di rak depan toko buku bersama buku-buku yang lain.

Di masa mudanya, Dee tidak pernah berambisi menjadi penulis terkenal. Hobinya menulis diary semenjak ia masih kecil tidak pernah ia sadari akan membawanya menjadi penulis handal di masa kini. Ia pun juga mengakui bahwa hidupnya mengalir saja, sama seperti karir dalam bernyanyinya. Semua serba tidak direncana dan bisa dikatakan serba kebetulan.

Ketika Dee merasakan suatu dorongan yang sudah tidak mampu ia tahan lagi, seperti ledakan ide yang tiba-tiba bermunculan di dalam kepalanya, disitulah ia mulai menciptakan karya masterpiece nya. Di tahun 2001 Dee mempersembahkan karya pertamanya yang berjudul Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, sebagai pembuka dari rentetan karya-karya lainnya.

Dee meracik dan mempersiapkan sendiri semua keperluan karya pertamanya itu dengan menempuh jalur self publishing. Berpengalaman dalam penerbitan? tentu saja tdak. Dee belum pernah merasakan menjadi seorang "serabutan" dalam dunia kepenerbitan. Mulai dari proses editor, layout hingga masuk ke percetakan ia selesaikan sendiri. Berhasil? ya, meskipun hasil cetak tidak memuaskan bagi seorang Dee karena kesalahan dalam proses layout, namun tujuh ribu eksemplar buku yang dianggap "gagal" itu tetap saja ludes terjual dalam hitungan hari.

Perjalanan hidup seorang Dee untuk mewujudkan cita-citanya menciptakan buku yang bisa berjajar di rak toko buku tidak semulus yang kita bayangkan. Ia juga pernah merasakan rasanya ditolak oleh redaksi media cetak ketika ia mencoba mengirimkan cerpennya. Baginya sangat wajar jika kita merasa kecewa dan sedih ketika naskah kita ditolak. "Tapi, sudah, stop, berhenti disana saja", ucap Dee berusungguh-sungguh di hadapan para peserta. Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan dan putus asa tidak menulis. Pikirkan saja bahwa kita belum berjodoh dengan penerbit tersebut dan kembali menulis. "Itu akan jauh membuat hati kita merasa lebih damai", pungkas Dee senang.


Penulis dari sudut pandang Dee

Kami sempat dibuat bengong ketika Dee mengungkapkan pendapatnya, bahwa penulis adalah cita-cita yang abstrak. Mengapa bisa begitu? ya, menurut Dee, menulis adalah kegiatan yang bisa dilkukan oleh siapa saja. Untuk itu perlu adanya kesadaran bagi setiap penulis untuk berpikir kreatif.



                                             Dee menyampaikan materi kepada peserta


Bagaimana cara berpikir kreatif? apakah dengan mencoba berpikir beda dari kebanyakan orang? Tidak, jawabnya. Dengan mencoba berbeda dari orang lain, justru akan menimbulkan beban bagi diri kita sendiri.

Berpikir kreatif bagi seorang Dee, adalah dengan memperluas medan kesadaran kita (expanding our awareness), yaitu dengan mencoba membayangkan dan belajar berpikir menjadi sesuatu yang bukan kita. Jangan terjebak pada hal-hal yang telah lama kita ketahui. Jangan pula terjebak pada kemudahan akan sesuatu yang biasa dalam kendali kita. Pernahkah kita membayangkan menjadi seekor cicak atau sebuah spidol? 


Tips Menulis seorang Dee

Sebagai penulis kita wajib memiliki kamera yang bekerja mengamati. Kamera itulah yang akan membantu penulis untuk berimajinasi lebih luas. Penulis juga tidak boleh bosan mengobservasi hal-hal sekitar. Hasil observasi yang didapat, masukkan ke dalam celengan ide. Celengan ide sangat membantu ketika kita tidak menemukan setetes ide -pun yang mengalir di dalam kepala.

Ya, selain berpikir kreatif, bagi Dee syarat lainnya untuk menjadi penulis adalah dengan:


  •   Tekun berlatih
Menulis sama halnya dengan melatih otot. Seorang Ade Rai tidak kekar begitu saja hanya dalam berlatih semalam. Begitu juga dengan menulis. Menulis adalah proses menggali, dimana setiap manusia memiliki unique voice yang perlu terus digali. Ibarat rasa gatal yang tak kunjung usai. Rasanya sangat gatal dan ingin terus menggaruk hingga akhirnya kita menemukan unique voice dalam diri kita sendiri. Seperti Djenar Maesa Ayu, yang selalu gatal menulis tentang seksualitas, atau Ayu Utami yang terus mengulik spritualisme.

  • Tahu buku apa yang mau kita tulis banget (serius, pake banget!) 
Dengan mengetahui buku apa yang suka kita baca, maka kita tahu pula buku apa yang ingin kita tulis. Dengan begitu kita jadi memiliki jati diri dan menemukan "pasar" yang sesuai dengan buku yang akan kita tulis. Jangan pedulikan orang berkomentar, dan jangan jauh berpikir apakah buku kita laku atau tidak. Menulis saja. Tulis apa yang kita mau. 


  • Deadline
   "Berdamailah dengan deadline", pesan Dee ketika para peserta mulai menahan nafas membahas poin ini. Deadline membantu kita untuk keluar dari rasa malas dan mampet ide. Jangan berpikir bahwa deadline adalah sesuatu yang akan mengekang ide serta imajinasi kita. Justru deadline membuat kita menjadi lebih disiplin. Luangkan waktu minimal dua jam sehari untuk menulis meski hanya beberapa kalimat.  Singkat kata, jadikan deadline sebagai alat untuk memotivasi kita terus menulis.



                                 
                                          Tetap cantik dan selalu bersemangat membagi ilmu



Sebuah novel tidak lepas dari peran tokoh yang diciptakan penulis. Tokoh yang baik adalah tokoh yang berkarakter. Dee memberi tips bagaimana menghidupkan sebuah karakter:

  1.  Memiliki kebiasaan/ habit
  2.  Punya keistimewaan
  3.  Punya kelemahan
Ketiga syarat diatas wajib dimiliki oleh para tokoh. Satu hal yang perlu diingat, hindari karakter yang terlalu sempurna. Seperti dalam kehidupan nyata, no body's perfect, right? :)


Pentingnya Riset dan Verisimilitude

Hayo, ada yang pernah tahu atau minimal pernah denger nggak istilah verisimilitude? jujur, saya juga baru tahu disini. Verisimilitude adalah sebuah riset yang membuat cerita fiksi menjadi kuat dan terasa nyata. 

Riset bisa didapat dari beberapa sumber, yaitu

  • Riset pustaka, bisa berupa buku dan film
  • Melalui internet
  • Wawancara, dan
  • Datang langsung
Sedikit bocoran nih, Dee kerap mendatangi kantor ASEAN secara langsung ketika dirinya ingin mengetahui budaya dan bahasa dari sebuah negara yang ingin Dee tulis. Tentu saja tujuannya untuk "menghidupkan" cerita supaya lebih real.


Dan kembali ke verisimilitude, riset ini aadalah riset dengan mengandalkan panca indera yang kita miliki. Kebanyakan karya fiksi selalu menggunakan indera penglihatan dalam risetnya. Belum banyak dari penulis fiksi menggambarkan suatu keadaan menggunakan indera penciuman. Misal, penulis ingin menggambarkan sebuah lemari tua peninggalan nenek moyang. Biasanya kalimat yang digunakan "sebuah lemari tua besar berwarna coklat kusam", kini cobalah menggunakan indera penciuman, "sebuah lemari tua usang dengan bau lembab bercampur aroma kamper dan kain batik tersisa disana". Selain lebih hidup, pesan yang disampaikan juga terasa lebih nyata.


Trik a la Dee
Ketika membaca novel karya Dee, saya sempat bertanya dalam hati. Novel Dee begitu rapi dan terstruktur. Ceritanya nggak mencolot kesana, kemari. Tokohnya pun jelas dan sangat berkarakter. Dan akhirnya pertanyaan saya terjawab di acara ini. Dee berbagi trik bagaimana merencanakan sebuah novel supaya nggak mati gaya di tengah jalan.

Menulis novel perlu persiapan. Sebab menulis novel berbeda dengan menulis cerpen dimana kita sudah tahu jelas bagaimana cara untuk mencapai ke ujung cerita. Novel merupakan susunan cerita yang panjang. Ibarat sebuah perjalanan kita belum mengetahui secara pasti bagaimana mencapai ke tujuan. Dan disini Dee membagi ilmunya dalam membuat struktur yang terbagi dalam 3 babak.

Sebelum mulai menulis, Dee terbiasa membuat guntingan karton berukuran besar menjadi 4 bagian dan dilekatkan di tembok sebagai acuannya dalam menulis. Kurang lebih Dee membaginya dengan cara berikut;


  • karton 1 memiliki prosentase ukuran sekitar 30%, dimana karton ini berisi pendahuluan, yaitu pengenalan setting, tokoh dan karakter.
  • karton 2 dibagi menjadi dua bagian yaitu karton 2a dan 2b, dimana masing-masing memiliki prosentase ukuran yang sama 30%. Alasan dibaginya karton kedua karena pada bagian ini bibit konflik mulai dimunculkan. Pada karton 2a tokoh diperkenalkan pada awal konflik dan terlempar dari zona nyaman. Kemudian pada karton 2b, tokoh mencapai pada klimaks konflik. Tokoh mencari jalan keluar dari konflik.
  • Terakhir, karton 3 adalah bagian dengan prosentase paling sedikit, dimana berisi penyelesaian, jawaban dari semua pertanyaan dan titik konflik mulai mereda.

                                        Struktur Cerita IEP (sumber:instagram Dewi Lestari)                                     

           
Sebuah pesan yang sangat berharga dari Dee, dimana banyak penulis terbuai dan tidak menyadari akan kelemahan ini, "Hindari narasi yang terlalu panjang dan berte-tele. Narasi dengan alur yang panjang hanya akan membuat cerita menjadi melamban dan berpotensi membuat pembaca menjadi lebih cepat bosan. Segeralah masuk ke diaolg. Dengan dialog, cerita menjadi lebih berjalan "


Tiga jam berlalu tanpa terasa. Sesi tanya jawab berlangsung seru dengan pertanyaan-pertanyaan dari para peserta yang sangat kritis dan berbobot. Pengorbanan para peserta yang telah menggotong semua koleksi karya Dee pun tidak sia-sia. Panitia telah menyediakan sesi "signing book" oleh Dee sekaligus foto bersama sepuasanya.






                                                Berpose bersama Dewi Dee Lestari


Banyak pengalaman yang saya dapat disini, termasuk teman-teman baru yang memiliki satu cita-cita menjadi penulis yang konkret :) Semoga saya selalu beruntung bisa mengikuti acara semacam ini lagi. Dan selalu beruntung naskah-naskah saya berhasil memikat hati penerbit yang saya singgahi. Do'akan saya ya :) Terima kasih #Dewi Lestari, Terima kasih juga #Bentang Pustaka.