Segelas cappuccino bertabur chocco granule di dalam wadah bertangkai
warna putih menemani pagi saya yang tidak cukup cerah kali ini. Ditemani
tetesan air sisa embun semalam, saya siapkan teman untuk cappuccino
saya. Selembar roti sisir cantik berbalur butter tergolek manis diatas
cawan putih, bersanding serasi di sisi kiri laptop hitam saya.
Sementara si bungsu asyik bersama si Barney, saya mencoba menikmati
momen langka ini. Tanpa perlu diburu memasak pagi-pagi seperti biasa.
Yah, meskipun saya masih harus menyempatkan untuk menggiling pakaian
keluarga saya di dalam dua drum penggilasan, saya merasa pagi ini cukup
sempurna. Langit pagi keabuan dengan sinar matahari suam-suam kuku
adalah perpaduan yang dapat menciptakan kehangatan pagi yang luar biasa.
Semoga saja siangnya cerah :)
Merunut beberapa status saya sebelumnya, seseorang pernah bertanya
kepada saya. Mengapa saya suka sekali berbicara tentang pagi, pohon dan
langit?
Jauh sebelum saya berjumpa dengan seorang perempuan yang
telah melahirkan enam seri novel superlaris di Indonesia, saya adalah
pengagum dan penikmat berat suasana pagi dan segala keindahan yang
diciptakan-Nya. Melihat kerumunan pohon rindang, air mengalir jernih,
langit biru, awan putih (mengapa jadi lirik lagunya Sherina ya?) membuat
imajinasi, kenangan, rasa, hasrat, teraduk liat dalam sebuah tungku
kekaguman.
Dan setelah hari itu, dimana saya ditakdirkan bertemu
dengan si novelis yang selalu berpenampilan sederhana namun tetap
terlihat kece dan smart, kami sepakat dan meng-aminkan, bahwa benda
langit dan segala pesona alam ciptaan-Nya memiliki kekuatan yang dapat
membangkitkan/menciptakan energi positif dalam sebuah jiwa.
Lalu bagaimana dengan pagimu hari ini?
Storylicious
cerita sederhana bak warung padang yang menyajikan tentang isi kepala yang membisu dalam keramaian maupun yang tiba-tiba liar dalam kesenyapan dengan diselubungi aroma absurd rempah-rempah kehidupan
Wednesday, April 13, 2016
Wednesday, February 10, 2016
I'm in religious
... Sementara orang-orang mulai berlari, seseorang terlihat bergeming. Menggelitik mereka untuk berpongah dan berkata, "Kau ini lamban sekali. Kau tidak punya tujuan rupanya, dan kau akan tertinggal jauh dari mata kami."
Bagaimana engkau bisa mendengar sesuatu yang berbisik jika engkau terus menerus berisik?
Lihatlah keheningan yang mereka ciptakan. Bahkan bisikannya mampu menjangkau hingga langit ketujuh. Lantas mengapa engkau terus berlari dan hanya mengitari bumi?
Friday, August 14, 2015
Bad Thing to Meet You
Delia berkali-kali merutuk dalam
hati melihat bos nya tidak kunjung menyudahi rapat sore ini. Jarum jam
tangannya tanpa segan terus melaju. Sementara ponsel yang disetel tanpa suara
yang sedari tadi berada di depannya berulang kali berkelip-kelip menyerukan panggilan.
Rapat dengan bos besar adalah
siksaan yang teramat berat bagi siapapun penghuni kantor itu. Membuat Delia
hanya mampu mengintip siapa orang yang dengan kukuh menghubunginya itu. Diam-diam
Delia mengambil dan membuka ponselnya dengan sangat teratur.
Dominic?
Tubuh Delia menggeliat kaku melihat
nama yang muncul di layar ponselnya. Nafasnya sempat tertahan sejenak. Dengan
sangat pelan ia mendesis mengucapkan nama lelaki yang telah sangat, sangat lama
tidak pernah ia jumpai itu. Bahkan ia sendiri tidak mempercayai, nomor ponsel
yang telah lama ia lupakan itu ternyata masih aktif dengan pemilik yang sama.
Otak Delia mulai tidak fokus.
Pikirannya terbang kemana-mana. Tanpa ia
sadari, jantungnya pun mulai berdegup tidak seirama.
Ponselnya kembali berkelip.
Buru-buru ia meraihnya tanpa mempedulikan reaksi bosnya yang masih saja sibuk
berbicara tentang angka penjualan perusahaan yang tidak mengalami kemajuan.
Joe, teman senior Delia yang notabene
berlebihan dalam bersolek, bahkan tidak ragu-ragu berlaku gemulai, terkejut
dengan keberanian Delia memainkan ponselnya di hadapan si bos. Matanya seakan menghakimi atas sikap Delia.
Delia cukup kecewa kali ini.
Ternyata bukan Dom yang menghubunginya.
Tapi,
hei, mengapa ia harus kecewa? Kali ini Farel, suaminya yang menhubunginya.
Namun melihat nama Farel yang tertera di layar ponsel justru membuat Delia
melesu. Tanpa ia sadari, nafasnya pun dibuangnya dengan satu hentakan.
“Ada apa, Del?”
Delia
hampir saja berjingkat mendengar suara si bos yang tiba-tiba menyebut namanya.
Matanya membulat. Badannya menegak. Wajahnya pun terlihat sangat mati gaya.
“Siapa
yang meneleponmu?” lanjut si bos.
Mendadak semua
mata yang berada di ruangan itu tertuju kepadanya.
“Barusan
klien kita yang berada di Medan menelepon, pak. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Saya
tidak enak menerimanya disaat bapak sedang serius membicarakan perusahaan kita”
jawab Delia tanpa basa basi, dengan mimik muka yang sangat meyakinkan. Andai dia
masuk dalam nominasi piala citra, tentu ia sudah dinobatlkan sebagai artis
paling top dalam beralasan.
“Oke.
Rapat saya sudahi dulu sampai disini. Dan jangan lupa, tangani semua klien kita dengan baik.” Lanjut
si bos sambil membenarkan tatanan jasnya dan berlalu keluar dari ruangan.
Joe kembali
menatap takjub Delia. Dengan gerakan gemulainya, tangan kiri nya tersilang di depan dada dan tangan kanan menutup mulutnya. Tidak
ketinggalan, tubuhnya ditarik sekian senti menjauhi Delia. Seakan ia menemukan
sesuatu yang hina di depannya.
“Tenang,
Joe. Semua akan baik-baik saja.” Celutuk Delia jahil sambil mengusap punggung Joe.
***
Jakarta sore ini cukup lengang. Tidak
seperti biasanya tol dalam kota tidak terlalu dipadati kendaraan. Delia menarik
nafas lega. Itu berarti ia akan tiba di rumah sebelum malam semakin larut. Melihat
Farel tidak terlalu lelah dalam mengemudikan mobil, Delia menyalakan radio
sambil membuka kembali ponselnya.
“Wow!” gumam Delia ketika mendapati pesan whatsapp
dari grup geng nya semasa kuliah. 200 messages. Apa saja yang mereka bicarakan?
“Ada apa, sayang?” tanya Farel
sambil menoleh ke arah Delia.
“Sorry. Nggak ada apa-apa kok.
Obrolan teman-teman di whatsapp mencapai dua ratus messages. Gila, bukan?”
“Oh… grup kamu yang sama Rezkia,
Chika, Ditia dan Sita?”
Delia mengangguk. Ia pun merasa lega
melihat suaminya mengerti dan tidak berusaha mencari tahu dengan memeriksa isi
ponselnya.
Buru-buru Delia kembali
berkonsentrasi pada benda yang berada di genggamannya. Tidak biasanya grup gengnya itu mencetak
angka sebanyak 200 pesan dalam waktu sehari.
Delia membaca dengan cepat celotehan
teman-temannya. Dengan teliti ia bisa memilah, mana yang perlu dibaca dan mana
yang tidak.
Eits!
Delia baru saja melihat beberapa kalimat
mencurigakan yang ditulis teman-temannya itu. Ada nama Dominic disebut disana.
Ada apa dengan Dominic? Mengapa mereka tia-tiba menyebut Dom?
Delia mulai membaca baik-baik isi pesan
yang mencurigakan itu.
Ditia : Hei, tau tidak, siang tadi aku bertemu
dengan siapa?
Rezkia : Malaikat Izrail.
Ditia : Hayyaah…mulutnya ya..
Rezkia : Hahahaha
Sejenak Delia terkikik membaca
ocehan Ditia dengan Rezkia.
Chika : Hahahaha..haha
Sita : Siapa, siapaaa..??
Ditia : Mantan gebetannya Delia.
Rezkia : Memang Delia punya gebetan? dia kan gadis yang
setia pada pacarnya, si Farel
Chika : Bener juga. Berarti dia selingkuh tuh.
Sita : Udah…ayo Dit, sebut nama
Ditia : Dom!!
Nafas Delia tertahan sejenak.
Jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Bahkan ia sempat mengucak matanya,
seakan tidak percaya Ditia mengaku telah bertemu dengan Dom. Bagaimana bisa? Lelaki
itu telah lama menghilang.
Delia kembali membaca obrolan
teman-temannya.
Chika : Hah?
Memang Delia pernah naksir sama Dom?
Sita : Wah…Delia diam-diam ternyata menghanyutkan.
Chika : Dom
nya doyan nggak sama Delia? hahaha
Ditia : Kayaknya
doyan, hahaha… aku pernah lihat mereka jalan berdua. Tugas kampus
berdua. Kemana-mana berdua. Aku yakin mereka
ada affair.
Rezkia :
Sebentar, Dom? Cowok yang selalu rapi dan berdandan keren di kampus kita itu?
Sita :
Ya eyalah…siapa lagi? Memangnya ada berapa Dominic di kampus kita?
Rezkia :
Kalau boleh berharap, Brian O’ Connor nya aja yang ada di kampus kita.
Chika : Hmm…tetep ya, Rezkia. Gagal move on.
Rezkia : Hahaha
Ditia : Hei, kembali ke laptop. Dominic sekarang
makin keren, tau!!
Chika : Oh, ya?? Sekeren apa?
Ditia : Tadi aku sempet ngobrol sama dia. Dia sempat bekerja menjadi
senior manajer
sebuah perusahaan asing.
Chika : Terus??
Ditia : Dewasa banget dia sekarang. Dan aku lihat, jarinya masih belum
pakai cincin.
Razkia : Oh…itu berarti dia terselamatkan dari tren batu akik.
Sita : Hahaha
Chika : Hahaha
Dahi Delia
mengrenyit melihat obrolan temannya yang terputus. Delia menyimpan kembali
ponselnya. Kini pandangannya menerawang. Memikirkan segala kenangan dan
kemungkinan. Bagaimana jika seuatu saat nanti ia benar-benar akan bertemu Dom?
“Sayang… sudah sampai. Kamu serius
amat dari tadi? Coba lihat, kamu ngobrolin apa saja sih sama mereka?” tiba-tiba
Farel meraih ponsel Delia yang menyembul
dari dalam tas.
“Hei..!”
Delia tidak
kuasa merebut kembali ponselnya yang telah dikuasai oleh Farel. Sebenarnya Delia
amat terganggu dengan kebiasaan Farel yang tidak pernah mau percaya dengannya. Namun
lagi-lagi Delia teramat tidak kuasa melawan Farel. Bagi Delia, Farel adalah
sosok suami yang teramat sempurna. Dia tidak akan menemukan dimanapun sosok
lelaki seperti Farel.
Delia
menggigit bibirnya cemas. Apa lagi yang ia takutkan kalau bukan Farel mendapati
nama Dom disana. Farel tahu betul siapa Dom.
“Sayang,
pulsa kamu habis kok nggak bilang?” tiba-tiba Farel menyerahkan kembali ponsel
Delia. Setelah itu ia merogoh ponsel dari dalam sakunya dan mengirimkan
sejumlah pulsa ke nomor Delia.
Delia menarik
nafas lega sekaligus bahagia. Itulah salah satu alasan mengapa Delia begitu
mencintai dan membanggakan suaminya.
“Cukup, kan,
pulsa dua ratus ribu buat satu bulan?”
Delia mengangguk
sekaligus menggamit lengan suaminya manja. “Terima kasih, sayang”
Seketika itu
juga, suara notifikasi bbm, whatsapp, sms, datang bersahut-sahutan. Mata Delia
membelalak kaget. Dia teringat akan sesuatu.
Grup! Grup!
Delia
buru-buru mengajak Farel masuk ke dalam rumah dan menyiapkan perlengkapan mandi
untuknya. Alasan Delia simple saja, jika tidak mau masuk angin, jangan mandi
terlalu malam. Padahal…
***
Dengan
perasaan bahagia, Delia membuka kembali ponselnya ketika Farel baru saja memulai
mandi. Ia merebahkan badannya diatas sofa ruang tengah sambil jemarinya
bergerak lincah mencari grup gengnya.
Tidak lama mulut
Delia mengerucut seperti corong air. Wajahnya tampak kecewa. Ia tidak mendapati
obrolan terbaru dari teman-temannya itu.
Delia tidak
menyerah. Ia pun memeriksa setelan whatsapp nya. Pasti ada yang tidak beres,
pikirnya.
Merasa
semuanya dalam kondisi normal, Delia memilih untuk mengirim pesan singkat
kepada Ditia melalui sms.
Tia, beneran
nih kamu ketemu Dom tadi siang? Kalian ngobrol apa saja? Tadi sore dia meneleponku, tau. Maksa banget. Tapi bikin
deg-degan juga sih. Hahha.. apa kabarnya dia sekarang? Serius dia makin keren?
Message sent!
Delia
berharap Ditia akan membalas sms darinya secepatnya.
Dan 5 menit
pun berlalu…
10 menit…
“Sayang, kamu
nggak mandi? Ayo buruan, setelah itu kita sholat isya bersama,”
Tanpa Delia
sadari, ia telah tertidur diatas sofa. Suara Farel tiba-tiba terdengar seperti
suara bel kapal. Untung saja suaminya itu tidak iseng mengambil ponsel yang
masih di genggamannya dan mencari tau isinya.
DIlihatnya, ponselnya
masih tenang tanpa notifikasi apapun. Delia menarik nafasnya berat sambil
bergegas menuju kamar mandi. Tidak lupa sebelumnya ia menghapus terlebih dahulu
semua obrolan yang berkaitan dengan Dom.
***
“Del, saya
minta tolong ke bagian pemasaran, dan berikan ke saya semua data mengenai
market, angka penjualan dan strategi marketing kita. Segera ya, Del.” Perintah si bos melalui telepon internal
kantor.
“Baik, pak.” Jawab
Delia. Dengan cekatan Delia meninggalkan mejanya dan menuju ke ruang pemasaran.
Dalam beberapa
menit, Delia sudah mendapatkan apa yang diinginkan bos nya. Joe telah
membantunya menemukan map-map berharga itu. Meskipun ia sedikit melambai, namun
kegesitannya dan loyalitasnya dalam bekerja sangat tidak diragukan.
Beberapa map
siap ia hantarkan ke ruang si bos. Sebelum memasuki ruangan, ia merapikan baju
sekaligus tatanan rambutnya. Bukan karena ia ingin memikat si bos. Tapi ia ingin
tampil profesional di hadapan tamu yang sedang berada di dalam ruangan itu. Ini
juga demi citra dan nama baik perusahaan. Masa sekretaris perusahaan besar
tampang nya awut-awutan.
Delia
mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah itu dengan sopan ia membuka pintu
ruangan.
“Masuk, Del,”
si bos mempersilakan dirinya masuk. “Taruh saja map nya di meja.”
Delia
berjalan menuju meja si bos sambil berusaha menoleh ke arah sang tamu yang sedang
membelakangi Delia. Dari belakang, potongan dan tatanan rambut tamu si bos
begitu licin dan rapi. Warna kemejanya menunjukkan ia seorang lelaki yang
memiliki selera.
“Del, sini,
kenalkan ini keponakan saya yang baru
resign dari tempat bekerjanya di Singapura. Bulan depan ia akan membantu
kita di perusahaan ini.” Tiba-tiba tangan si bos mengayun memberi kode kepada
Delia untuk mendekat ke arah mereka.
Sang tamu itu
beranjak dari kursinya dan menoleh menyambut Delia. Senyumnya terkembang manis
sekali. Dan ia tahu betul siapa pemilik senyuman itu.
Dom?!!
Hampir saja
Delia kena serangan stroke. Tidak jadi mendapat serangan stroke, mendadak
tubuhnya berubah menjadi panas dingin. Bibirnya kaku seakan ia sedang berada dalam
ruangan bersuhu minus tiga puluh derajat.
Lidahnya pun
ikut kelu. Tangannya pun tidak kunjung menjabat tamu yang berada di depannya
itu. Tamu yang sangat berbeda dari perjumpaan terakhir ketika ia melangsungkan
pernikahan dengan Farel. Tamu yang selama ini pernah menghantui pikirannya
meskipun ia berada dalam pelukan Farel. Tamu yang pernah ia rindukan dengan angan-angan
perjumpaan yang tak terduga. Dan kini Tuhan mengabulkannya!
Ya Tuhan…mengapa
dia begitu…
Mempesona!!
Thursday, August 13, 2015
TREN MENULIS ANTOLOGI
Dewasa ini menulis telah menjadi tren. Semenjak
banyaknya film box office yang
diadaptasi dari karya novel, seperti Harry Potter, Twilight, Divergent, Laskar
Pelangi, hingga karya-karya Dewi Lestari, seperti Filosofi Kopi hingga
Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, banyak
dari mereka bertanya, bagaimana caranya bisa jadi penulis dan karyanya
diterbitkan.
Tidak ada yang salah dengan mencoba
menjadi penulis. Siapa saja bisa menjadi penulis yang hebat. Hanya saja, tidak
sedikit pula dari mereka yang berangan-angan menjadi penulis namun tidak
kunjung berelatih merealisasikan angan-angannya. Mulai dari tidak punya ide
atau yang tidak ada waktu karena kesibukkan yang menyita.
“Aku nggak bisa nulis sepanjang
itu.” Keluh salah seorang teman yang berusaha menulis sebuah novel. “Mentok
cuma sampai tiga puluh halaman. Gimana dong?”
Penerbit biasanya mematok minimal
sekitar 200-250 halaman untuk naskah fiksi ataupun non fiksi pembaca dewasa.
Tentu saja untuk menembus halaman setebal itu dibutuhkan imajinasi dan
keterampilan dalam menulis. Untuk itu, sama halnya dengan profesi lainnya, menulis
juga dibutuhkan jam terbang untuk menghasilkan karya yang baik dan bermutu.
Ya, tidak sedikit orang yang mengakui bahwa
alasan dari mereka menulis adalah supaya karyanya dikenal dengan bonus bisa
menjadi terkenal. Tentu saja, siapa yang tidak mau terkenal di jaman seperti
saat ini. Menjadi populer bisa menjadi kesenangan batin.
Beruntunglah hidup di jaman yang serba canggih
seperti saat ini. Menerbitkan buku bukan lagi perkara sulit. Calon penulis yang
hanya memiliki satu atau dua karya dengan panjang cerita kurang dari 100
halaman, bisa membuat proyek antologi bersama calon penulis lainnya. Dan
peluang diterbitkan pun lebih besar.
Mungkin sudah banyak yang mengetahui apa itu buku
antologi. Atau istilah kerennya, nulis keroyokan. Keroyokan disini maksudnya
adalah beberapa penulis memberi andil dalam terciptanya sebuah buku, yaitu satu
penulis menyumbangkan sebuah bab atau satu kisah saja dan kemudian bab
selanjutnya akan ditulis oleh penulis yang lain dan kemudian disatukan menjadi
sebuah buku.
Dalam proyek antologi, biasanya ada satu
penulis yang berperan sebagai koordinator. Mulai dari mengkoordinasi penulis
sekaligus menciptakan tema atau judul buku. Setelah koordinator menyeleksi
tulisan dari para penulis yang layak masuk dalam proyek antologi, selanjutnya
ia akan menyusunnya menjadi satu kesatuan naskah dan menyerahkannya kepada
penerbit. Para penulis yang turut andil dalam pembuatan antologi juga akan
menerima imbalan. Baik itu berupa royalti atau mendapat buku antologi tersebut
secara gratis.
Dan yang perlu diketahui, dalam sebuah karya
antologi, para penulis tidak akan ditulis satu persatu di sampul depan buku.
Biasanya cukup sang koordinator yang namanya cukup dikenal sebagai penulis profesional,
yang akan dicantumkan namanya. Hal tersebut dilakukan sebagai daya tarik
penjualan buku. Namun tidak perlu berkecil hati. Para penulis yang
menyumbangkan naskahnya, tetap akan disebutkan namanya sekaligus profil mereka
masing-masing. Entah itu di halaman belakang buku atau sampul belakang buku.
Menyimpulkan fenomena antologi yang sedang
marak saat ini, tidak ada yang salah bagi mereka para calon penulis untuk
mencobanya. Tidak selamanya antologi dianggap hanya sebagai “alat” yang
digunakan para calon penulis agar karyanya bisa segera terbit tanpa usaha
lebih. Dari kacamata saya pribadi, antologi bisa menjadi pemecut semangat untuk
terus menulis sekaligus menambah jam terbang seorang penulis yang memang
memiliki dorongan untuk menjadi penulis profesional. Hanya saja yang perlu
disadari adalah, jangan pernah terpaku dengan kepuasan dari hasil sebuah karya
antologi.
Menulis memang bukan tentang bagaimana kita
akan dikenal banyak orang dan eksis di dunia maya maupun nyata. Jadikan menulis
sebagai sesuatu yang membuatmu lapar dan selalu memberi dorongan untuk selalu
menulis. Percayalah, menulis yang dihasilkan dari karya sendiri akan jauh lebih
membanggakan.
Friday, April 3, 2015
Mengkonkretkan yang Abstrak bersama Dewi Lestari
Menulis itu harus cerdas dan kreatif!
Itulah yang berhasil saya rangkum dari acara yang digelar pada hari Minggu, tanggal 29 Maret 2015 di lantai dua perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya.
Dee's Coaching Clinic di Surabaya
Ya, saya memang sedang beruntung dapat mengikuti acara kece seperti ini. Bagaimana tidak jika syarat untuk dapat mengantongi undangan acara yang bertajuk "Dee's Coaching Clinic" yang langsung dimentori oleh Dewi Lestari ini adalah dengan menunjukkan review terbaiknya tentang sekuel kelima dari serial Supernova yang berjudul GELOMBANG. Dan saya berhasil melenggang bersama keponakan kece saya yang masih berusia sebelas tahun, bernama Hanun, berkat kemurahan hati seorang lelaki bernama Lalu Abdul Fatah. Terima kasih ya, Lalu :) Tapi sepertinya kita tidak perlu berlama-lama mengulas lelaki ini kali yaa. Hehe...
Selain rasa bahagia, mendadak saya juga diliputi rasa kagum oleh sosok ibu dua anak dari Keenan dan Atisha ini. Disanalah untuk pertama kalinya saya terbius oleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bidang kedokteran. Dibuat terpesona oleh seseorang yang bukan lawan jenis saya. Sekaligus terhipnotis tanpa perlu melihat gerakan masiv sentrifugal sebuah lingkaran.
Dee's Coaching Clinic di Surabaya
Ya, saya memang sedang beruntung dapat mengikuti acara kece seperti ini. Bagaimana tidak jika syarat untuk dapat mengantongi undangan acara yang bertajuk "Dee's Coaching Clinic" yang langsung dimentori oleh Dewi Lestari ini adalah dengan menunjukkan review terbaiknya tentang sekuel kelima dari serial Supernova yang berjudul GELOMBANG. Dan saya berhasil melenggang bersama keponakan kece saya yang masih berusia sebelas tahun, bernama Hanun, berkat kemurahan hati seorang lelaki bernama Lalu Abdul Fatah. Terima kasih ya, Lalu :) Tapi sepertinya kita tidak perlu berlama-lama mengulas lelaki ini kali yaa. Hehe...
Selain rasa bahagia, mendadak saya juga diliputi rasa kagum oleh sosok ibu dua anak dari Keenan dan Atisha ini. Disanalah untuk pertama kalinya saya terbius oleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bidang kedokteran. Dibuat terpesona oleh seseorang yang bukan lawan jenis saya. Sekaligus terhipnotis tanpa perlu melihat gerakan masiv sentrifugal sebuah lingkaran.
Perempuan yang biasa akrab disapa Dee ini, selain pandai mengolah imajinasi dan mengemasnya dalam ratusan lembar cerita beraroma sastra ilmiah, ternyata ia juga sangat jenius dalam memvisualisasikan isi otaknya kepada kami para peserta. Jauh dari kesan sombong, ja'im, apalagi menggurui. Semua pesan disampaikannya dengan jujur dan mengalir tanpa mengurangi aura cerdas yang selama ini selalu melekat pada dirinya. Ya, disitulah kadang saya merasa merinding sendiri.
Sekilas tentang Dee yang tidak kita ketahui
Seorang Dee tidak pernah bercita-cita menjadi penulis sebelumnya. Tekadnya sederhana saja di masa itu. Suatu saat bukunya akan terpajang di rak depan toko buku bersama buku-buku yang lain.
Di masa mudanya, Dee tidak pernah berambisi menjadi penulis terkenal. Hobinya menulis diary semenjak ia masih kecil tidak pernah ia sadari akan membawanya menjadi penulis handal di masa kini. Ia pun juga mengakui bahwa hidupnya mengalir saja, sama seperti karir dalam bernyanyinya. Semua serba tidak direncana dan bisa dikatakan serba kebetulan.
Ketika Dee merasakan suatu dorongan yang sudah tidak mampu ia tahan lagi, seperti ledakan ide yang tiba-tiba bermunculan di dalam kepalanya, disitulah ia mulai menciptakan karya masterpiece nya. Di tahun 2001 Dee mempersembahkan karya pertamanya yang berjudul Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, sebagai pembuka dari rentetan karya-karya lainnya.
Dee meracik dan mempersiapkan sendiri semua keperluan karya pertamanya itu dengan menempuh jalur self publishing. Berpengalaman dalam penerbitan? tentu saja tdak. Dee belum pernah merasakan menjadi seorang "serabutan" dalam dunia kepenerbitan. Mulai dari proses editor, layout hingga masuk ke percetakan ia selesaikan sendiri. Berhasil? ya, meskipun hasil cetak tidak memuaskan bagi seorang Dee karena kesalahan dalam proses layout, namun tujuh ribu eksemplar buku yang dianggap "gagal" itu tetap saja ludes terjual dalam hitungan hari.
Perjalanan hidup seorang Dee untuk mewujudkan cita-citanya menciptakan buku yang bisa berjajar di rak toko buku tidak semulus yang kita bayangkan. Ia juga pernah merasakan rasanya ditolak oleh redaksi media cetak ketika ia mencoba mengirimkan cerpennya. Baginya sangat wajar jika kita merasa kecewa dan sedih ketika naskah kita ditolak. "Tapi, sudah, stop, berhenti disana saja", ucap Dee berusungguh-sungguh di hadapan para peserta. Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan dan putus asa tidak menulis. Pikirkan saja bahwa kita belum berjodoh dengan penerbit tersebut dan kembali menulis. "Itu akan jauh membuat hati kita merasa lebih damai", pungkas Dee senang.
Penulis dari sudut pandang Dee
Kami sempat dibuat bengong ketika Dee mengungkapkan pendapatnya, bahwa penulis adalah cita-cita yang abstrak. Mengapa bisa begitu? ya, menurut Dee, menulis adalah kegiatan yang bisa dilkukan oleh siapa saja. Untuk itu perlu adanya kesadaran bagi setiap penulis untuk berpikir kreatif.
Dee menyampaikan materi kepada peserta
Bagaimana cara berpikir kreatif? apakah dengan mencoba berpikir beda dari kebanyakan orang? Tidak, jawabnya. Dengan mencoba berbeda dari orang lain, justru akan menimbulkan beban bagi diri kita sendiri.
Berpikir kreatif bagi seorang Dee, adalah dengan memperluas medan kesadaran kita (expanding our awareness), yaitu dengan mencoba membayangkan dan belajar berpikir menjadi sesuatu yang bukan kita. Jangan terjebak pada hal-hal yang telah lama kita ketahui. Jangan pula terjebak pada kemudahan akan sesuatu yang biasa dalam kendali kita. Pernahkah kita membayangkan menjadi seekor cicak atau sebuah spidol?
Tips Menulis seorang Dee
Sebagai penulis kita wajib memiliki kamera yang bekerja mengamati. Kamera itulah yang akan membantu penulis untuk berimajinasi lebih luas. Penulis juga tidak boleh bosan mengobservasi hal-hal sekitar. Hasil observasi yang didapat, masukkan ke dalam celengan ide. Celengan ide sangat membantu ketika kita tidak menemukan setetes ide -pun yang mengalir di dalam kepala.
Ya, selain berpikir kreatif, bagi Dee syarat lainnya untuk menjadi penulis adalah dengan:
Seorang Dee tidak pernah bercita-cita menjadi penulis sebelumnya. Tekadnya sederhana saja di masa itu. Suatu saat bukunya akan terpajang di rak depan toko buku bersama buku-buku yang lain.
Di masa mudanya, Dee tidak pernah berambisi menjadi penulis terkenal. Hobinya menulis diary semenjak ia masih kecil tidak pernah ia sadari akan membawanya menjadi penulis handal di masa kini. Ia pun juga mengakui bahwa hidupnya mengalir saja, sama seperti karir dalam bernyanyinya. Semua serba tidak direncana dan bisa dikatakan serba kebetulan.
Ketika Dee merasakan suatu dorongan yang sudah tidak mampu ia tahan lagi, seperti ledakan ide yang tiba-tiba bermunculan di dalam kepalanya, disitulah ia mulai menciptakan karya masterpiece nya. Di tahun 2001 Dee mempersembahkan karya pertamanya yang berjudul Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, sebagai pembuka dari rentetan karya-karya lainnya.
Dee meracik dan mempersiapkan sendiri semua keperluan karya pertamanya itu dengan menempuh jalur self publishing. Berpengalaman dalam penerbitan? tentu saja tdak. Dee belum pernah merasakan menjadi seorang "serabutan" dalam dunia kepenerbitan. Mulai dari proses editor, layout hingga masuk ke percetakan ia selesaikan sendiri. Berhasil? ya, meskipun hasil cetak tidak memuaskan bagi seorang Dee karena kesalahan dalam proses layout, namun tujuh ribu eksemplar buku yang dianggap "gagal" itu tetap saja ludes terjual dalam hitungan hari.
Perjalanan hidup seorang Dee untuk mewujudkan cita-citanya menciptakan buku yang bisa berjajar di rak toko buku tidak semulus yang kita bayangkan. Ia juga pernah merasakan rasanya ditolak oleh redaksi media cetak ketika ia mencoba mengirimkan cerpennya. Baginya sangat wajar jika kita merasa kecewa dan sedih ketika naskah kita ditolak. "Tapi, sudah, stop, berhenti disana saja", ucap Dee berusungguh-sungguh di hadapan para peserta. Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan dan putus asa tidak menulis. Pikirkan saja bahwa kita belum berjodoh dengan penerbit tersebut dan kembali menulis. "Itu akan jauh membuat hati kita merasa lebih damai", pungkas Dee senang.
Penulis dari sudut pandang Dee
Kami sempat dibuat bengong ketika Dee mengungkapkan pendapatnya, bahwa penulis adalah cita-cita yang abstrak. Mengapa bisa begitu? ya, menurut Dee, menulis adalah kegiatan yang bisa dilkukan oleh siapa saja. Untuk itu perlu adanya kesadaran bagi setiap penulis untuk berpikir kreatif.
Dee menyampaikan materi kepada peserta
Bagaimana cara berpikir kreatif? apakah dengan mencoba berpikir beda dari kebanyakan orang? Tidak, jawabnya. Dengan mencoba berbeda dari orang lain, justru akan menimbulkan beban bagi diri kita sendiri.
Berpikir kreatif bagi seorang Dee, adalah dengan memperluas medan kesadaran kita (expanding our awareness), yaitu dengan mencoba membayangkan dan belajar berpikir menjadi sesuatu yang bukan kita. Jangan terjebak pada hal-hal yang telah lama kita ketahui. Jangan pula terjebak pada kemudahan akan sesuatu yang biasa dalam kendali kita. Pernahkah kita membayangkan menjadi seekor cicak atau sebuah spidol?
Tips Menulis seorang Dee
Sebagai penulis kita wajib memiliki kamera yang bekerja mengamati. Kamera itulah yang akan membantu penulis untuk berimajinasi lebih luas. Penulis juga tidak boleh bosan mengobservasi hal-hal sekitar. Hasil observasi yang didapat, masukkan ke dalam celengan ide. Celengan ide sangat membantu ketika kita tidak menemukan setetes ide -pun yang mengalir di dalam kepala.
Ya, selain berpikir kreatif, bagi Dee syarat lainnya untuk menjadi penulis adalah dengan:
- Tekun berlatih
Menulis sama halnya dengan melatih otot. Seorang Ade Rai tidak kekar begitu saja hanya dalam berlatih semalam. Begitu juga dengan menulis. Menulis adalah proses menggali, dimana setiap manusia memiliki unique voice yang perlu terus digali. Ibarat rasa gatal yang tak kunjung usai. Rasanya sangat gatal dan ingin terus menggaruk hingga akhirnya kita menemukan unique voice dalam diri kita sendiri. Seperti Djenar Maesa Ayu, yang selalu gatal menulis tentang seksualitas, atau Ayu Utami yang terus mengulik spritualisme.
- Tahu buku apa yang mau kita tulis banget (serius, pake banget!)
Dengan mengetahui buku apa yang suka kita baca, maka kita tahu pula buku apa yang ingin kita tulis. Dengan begitu kita jadi memiliki jati diri dan menemukan "pasar" yang sesuai dengan buku yang akan kita tulis. Jangan pedulikan orang berkomentar, dan jangan jauh berpikir apakah buku kita laku atau tidak. Menulis saja. Tulis apa yang kita mau.
- Deadline
"Berdamailah dengan deadline", pesan Dee ketika para peserta mulai menahan nafas membahas poin ini. Deadline membantu kita untuk keluar dari rasa malas dan mampet ide. Jangan berpikir bahwa deadline adalah sesuatu yang akan mengekang ide serta imajinasi kita. Justru deadline membuat kita menjadi lebih disiplin. Luangkan waktu minimal dua jam sehari untuk menulis meski hanya beberapa kalimat. Singkat kata, jadikan deadline sebagai alat untuk memotivasi kita terus menulis.
Tetap cantik dan selalu bersemangat membagi ilmu
Sebuah novel tidak lepas dari peran tokoh yang diciptakan penulis. Tokoh yang baik adalah tokoh yang berkarakter. Dee memberi tips bagaimana menghidupkan sebuah karakter:
Pentingnya Riset dan Verisimilitude
Hayo, ada yang pernah tahu atau minimal pernah denger nggak istilah verisimilitude? jujur, saya juga baru tahu disini. Verisimilitude adalah sebuah riset yang membuat cerita fiksi menjadi kuat dan terasa nyata.
Riset bisa didapat dari beberapa sumber, yaitu
Dan kembali ke verisimilitude, riset ini aadalah riset dengan mengandalkan panca indera yang kita miliki. Kebanyakan karya fiksi selalu menggunakan indera penglihatan dalam risetnya. Belum banyak dari penulis fiksi menggambarkan suatu keadaan menggunakan indera penciuman. Misal, penulis ingin menggambarkan sebuah lemari tua peninggalan nenek moyang. Biasanya kalimat yang digunakan "sebuah lemari tua besar berwarna coklat kusam", kini cobalah menggunakan indera penciuman, "sebuah lemari tua usang dengan bau lembab bercampur aroma kamper dan kain batik tersisa disana". Selain lebih hidup, pesan yang disampaikan juga terasa lebih nyata.
Trik a la Dee
Ketika membaca novel karya Dee, saya sempat bertanya dalam hati. Novel Dee begitu rapi dan terstruktur. Ceritanya nggak mencolot kesana, kemari. Tokohnya pun jelas dan sangat berkarakter. Dan akhirnya pertanyaan saya terjawab di acara ini. Dee berbagi trik bagaimana merencanakan sebuah novel supaya nggak mati gaya di tengah jalan.
Menulis novel perlu persiapan. Sebab menulis novel berbeda dengan menulis cerpen dimana kita sudah tahu jelas bagaimana cara untuk mencapai ke ujung cerita. Novel merupakan susunan cerita yang panjang. Ibarat sebuah perjalanan kita belum mengetahui secara pasti bagaimana mencapai ke tujuan. Dan disini Dee membagi ilmunya dalam membuat struktur yang terbagi dalam 3 babak.
Sebelum mulai menulis, Dee terbiasa membuat guntingan karton berukuran besar menjadi 4 bagian dan dilekatkan di tembok sebagai acuannya dalam menulis. Kurang lebih Dee membaginya dengan cara berikut;
Tetap cantik dan selalu bersemangat membagi ilmu
Sebuah novel tidak lepas dari peran tokoh yang diciptakan penulis. Tokoh yang baik adalah tokoh yang berkarakter. Dee memberi tips bagaimana menghidupkan sebuah karakter:
- Memiliki kebiasaan/ habit
- Punya keistimewaan
- Punya kelemahan
Ketiga syarat diatas wajib dimiliki oleh para tokoh. Satu hal yang perlu diingat, hindari karakter yang terlalu sempurna. Seperti dalam kehidupan nyata, no body's perfect, right? :)
Pentingnya Riset dan Verisimilitude
Hayo, ada yang pernah tahu atau minimal pernah denger nggak istilah verisimilitude? jujur, saya juga baru tahu disini. Verisimilitude adalah sebuah riset yang membuat cerita fiksi menjadi kuat dan terasa nyata.
Riset bisa didapat dari beberapa sumber, yaitu
- Riset pustaka, bisa berupa buku dan film
- Melalui internet
- Wawancara, dan
- Datang langsung
Sedikit bocoran nih, Dee kerap mendatangi kantor ASEAN secara langsung ketika dirinya ingin mengetahui budaya dan bahasa dari sebuah negara yang ingin Dee tulis. Tentu saja tujuannya untuk "menghidupkan" cerita supaya lebih real.
Dan kembali ke verisimilitude, riset ini aadalah riset dengan mengandalkan panca indera yang kita miliki. Kebanyakan karya fiksi selalu menggunakan indera penglihatan dalam risetnya. Belum banyak dari penulis fiksi menggambarkan suatu keadaan menggunakan indera penciuman. Misal, penulis ingin menggambarkan sebuah lemari tua peninggalan nenek moyang. Biasanya kalimat yang digunakan "sebuah lemari tua besar berwarna coklat kusam", kini cobalah menggunakan indera penciuman, "sebuah lemari tua usang dengan bau lembab bercampur aroma kamper dan kain batik tersisa disana". Selain lebih hidup, pesan yang disampaikan juga terasa lebih nyata.
Trik a la Dee
Ketika membaca novel karya Dee, saya sempat bertanya dalam hati. Novel Dee begitu rapi dan terstruktur. Ceritanya nggak mencolot kesana, kemari. Tokohnya pun jelas dan sangat berkarakter. Dan akhirnya pertanyaan saya terjawab di acara ini. Dee berbagi trik bagaimana merencanakan sebuah novel supaya nggak mati gaya di tengah jalan.
Menulis novel perlu persiapan. Sebab menulis novel berbeda dengan menulis cerpen dimana kita sudah tahu jelas bagaimana cara untuk mencapai ke ujung cerita. Novel merupakan susunan cerita yang panjang. Ibarat sebuah perjalanan kita belum mengetahui secara pasti bagaimana mencapai ke tujuan. Dan disini Dee membagi ilmunya dalam membuat struktur yang terbagi dalam 3 babak.
Sebelum mulai menulis, Dee terbiasa membuat guntingan karton berukuran besar menjadi 4 bagian dan dilekatkan di tembok sebagai acuannya dalam menulis. Kurang lebih Dee membaginya dengan cara berikut;
- karton 1 memiliki prosentase ukuran sekitar 30%, dimana karton ini berisi pendahuluan, yaitu pengenalan setting, tokoh dan karakter.
- karton 2 dibagi menjadi dua bagian yaitu karton 2a dan 2b, dimana masing-masing memiliki prosentase ukuran yang sama 30%. Alasan dibaginya karton kedua karena pada bagian ini bibit konflik mulai dimunculkan. Pada karton 2a tokoh diperkenalkan pada awal konflik dan terlempar dari zona nyaman. Kemudian pada karton 2b, tokoh mencapai pada klimaks konflik. Tokoh mencari jalan keluar dari konflik.
- Terakhir, karton 3 adalah bagian dengan prosentase paling sedikit, dimana berisi penyelesaian, jawaban dari semua pertanyaan dan titik konflik mulai mereda.
Struktur Cerita IEP (sumber:instagram Dewi Lestari)
Sebuah pesan yang sangat berharga dari Dee, dimana banyak penulis terbuai dan tidak menyadari akan kelemahan ini, "Hindari narasi yang terlalu panjang dan berte-tele. Narasi dengan alur yang panjang hanya akan membuat cerita menjadi melamban dan berpotensi membuat pembaca menjadi lebih cepat bosan. Segeralah masuk ke diaolg. Dengan dialog, cerita menjadi lebih berjalan "
Tiga jam berlalu tanpa terasa. Sesi tanya jawab berlangsung seru dengan pertanyaan-pertanyaan dari para peserta yang sangat kritis dan berbobot. Pengorbanan para peserta yang telah menggotong semua koleksi karya Dee pun tidak sia-sia. Panitia telah menyediakan sesi "signing book" oleh Dee sekaligus foto bersama sepuasanya.
Banyak pengalaman yang saya dapat disini, termasuk teman-teman baru yang memiliki satu cita-cita menjadi penulis yang konkret :) Semoga saya selalu beruntung bisa mengikuti acara semacam ini lagi. Dan selalu beruntung naskah-naskah saya berhasil memikat hati penerbit yang saya singgahi. Do'akan saya ya :) Terima kasih #Dewi Lestari, Terima kasih juga #Bentang Pustaka.
Subscribe to:
Posts (Atom)






