Segelas cappuccino bertabur chocco granule di dalam wadah bertangkai
warna putih menemani pagi saya yang tidak cukup cerah kali ini. Ditemani
tetesan air sisa embun semalam, saya siapkan teman untuk cappuccino
saya. Selembar roti sisir cantik berbalur butter tergolek manis diatas
cawan putih, bersanding serasi di sisi kiri laptop hitam saya.
Sementara si bungsu asyik bersama si Barney, saya mencoba menikmati
momen langka ini. Tanpa perlu diburu memasak pagi-pagi seperti biasa.
Yah, meskipun saya masih harus menyempatkan untuk menggiling pakaian
keluarga saya di dalam dua drum penggilasan, saya merasa pagi ini cukup
sempurna. Langit pagi keabuan dengan sinar matahari suam-suam kuku
adalah perpaduan yang dapat menciptakan kehangatan pagi yang luar biasa.
Semoga saja siangnya cerah :)
Merunut beberapa status saya sebelumnya, seseorang pernah bertanya
kepada saya. Mengapa saya suka sekali berbicara tentang pagi, pohon dan
langit?
Jauh sebelum saya berjumpa dengan seorang perempuan yang
telah melahirkan enam seri novel superlaris di Indonesia, saya adalah
pengagum dan penikmat berat suasana pagi dan segala keindahan yang
diciptakan-Nya. Melihat kerumunan pohon rindang, air mengalir jernih,
langit biru, awan putih (mengapa jadi lirik lagunya Sherina ya?) membuat
imajinasi, kenangan, rasa, hasrat, teraduk liat dalam sebuah tungku
kekaguman.
Dan setelah hari itu, dimana saya ditakdirkan bertemu
dengan si novelis yang selalu berpenampilan sederhana namun tetap
terlihat kece dan smart, kami sepakat dan meng-aminkan, bahwa benda
langit dan segala pesona alam ciptaan-Nya memiliki kekuatan yang dapat
membangkitkan/menciptakan energi positif dalam sebuah jiwa.
Lalu bagaimana dengan pagimu hari ini?
cerita sederhana bak warung padang yang menyajikan tentang isi kepala yang membisu dalam keramaian maupun yang tiba-tiba liar dalam kesenyapan dengan diselubungi aroma absurd rempah-rempah kehidupan
Wednesday, April 13, 2016
Wednesday, February 10, 2016
I'm in religious
... Sementara orang-orang mulai berlari, seseorang terlihat bergeming. Menggelitik mereka untuk berpongah dan berkata, "Kau ini lamban sekali. Kau tidak punya tujuan rupanya, dan kau akan tertinggal jauh dari mata kami."
Bagaimana engkau bisa mendengar sesuatu yang berbisik jika engkau terus menerus berisik?
Lihatlah keheningan yang mereka ciptakan. Bahkan bisikannya mampu menjangkau hingga langit ketujuh. Lantas mengapa engkau terus berlari dan hanya mengitari bumi?
Subscribe to:
Posts (Atom)